FOKUS: Beberapa Kendala Kegagalan Evan Dimas


Evan Dimas mulai sadar betapa pentingnya arti sekolah.

Wakil Indonesia dan Surabaya, Evan Dimas, sudah dipastikan gagal menembus fase 16 besar dalam ajang pencarian bakat bertajuk Nike ‘The Chance’. Selama sepuluh hari di Barcelona, Evan akhirnya tiba di Surabaya pada Senin (27/8) lalu.

Ia pun berani mengungkapkan, beberapa kendala yang ditemui selama bersaing dengan 99 pesepakbola muda lainnya dari 55 negara di dunia tersebut. Secara garis besar, Evan menjelaskan ada tiga hal yang menjadi kendala utamanya sewaktu mengikuti ajang pencarian bakat tersebut.

Kendala pertama adalah soal cuaca. Sebagai warga negara Indonesia yang biasa hidup di lingkungan tropis, Evan tampak kaget dengan kondisi cuaca di Spanyol. “Di sana sebenarnya juga panas. Tapi, panasnya itu tak membuat berkeringat,” kata Evan Dimas kepada GOAL.com Indonesia.

Sementara kendala yang kedua adalah makanan. Meski sudah mempersiapkan diri sebelum keberangkatan dengan memakan roti setiap hari, namun ternyata makanan yang disajikan di camp pelatihan, sangat asing di lidah pemain berusia 17 tahun itu. “Saya kan cari nasi, soalnya tidak suka sayur. Padahal, orang di sana makannya sayur terus,” sambungnya.

Dan, kendala terakhir adalah yang terberat yang ia rasakan. Kendala itu adalah masalah komunikasi. Sekali lagi, meski sudah mengantisipasi dengan mendatangkan guru les Bahasa Inggris, toh Evan masih kesulitan untuk berkomunikasi dengan rekannya, plus mentor yang sudah dipersiapkan oleh pihak Nike.

“Saya di sana kan sendiri. Saya tidak bisa Bahasa Inggris, jadi nggak bisa ngomong. Apalagi di latihan tidak ada translator, melakukan apa pun jadi takut salah. Ya mau gimana lagi,” ungkap Evan dengan nada menyesal.

Meski gagal, Evan mengaku mendapat banyak hikmah dan pelajaran sepulang dari Barcelona. Ia mulai sadar betapa pentingnya arti sekolah. Ia pun menyesal karena sering menomorduakan sekolah dan lebih memilih sepakbola. “Makanya itu saya sadar kalau sekolah itu penting,” terangnya.

Evan akhirnya gagal. Ia harus pulang ke Surabaya dengan perasaan sedih. Namun, kegagalan itu tak membuatnya patah semangat. Ia sadar ada nilai yang terkandung dari kegagalan itu. Memiliki gocekan maut, umpan akurat, stamina selalu prima, speed di atas rata-rata, tendangan keras serta heading mematikan, tentu menjadi dambaan semua pesepakbola di muka dunia. Namun, jika tak dikemas dengan kemampuan akademis, bukan tidak mungkin kasus Evan akan terulang.

Di dunia sendiri, banyak pesepakbola yang tak hanya jago di lapangan hijau, tapi juga memiliki otak moncer. Mantan striker tim nasional (timnas) Jerman, Oliver Bierhoff misalnya. Saat meniti karier di dunia sepakbola, pemain yang dikenal memiliki tandukan maut ini menempuh pendidikan ekonomi bisnis di Universitas Hagen, Jerman.

Selain Bierhoff, pelatih Arsenal yang mendapat julukan ‘The Professor’, Arsene Wenger adalah sarjana di bidang ekonomi. Dan mungkin masih banyak contoh lainnya, di mana pemain maupun pelatih sepakbola juga mengimbangi kemampuan teknik bermain bolanya dengan sisi akademis.

Selama di Barcelona, Evan juga mengaku tidak bertemu dan mendapat arahan langsung dari mantan pelatih Barcelona, Josep ‘Pep’ Guardiola. Bisa jadi mentor handal yang satu ini disiapkan, pada sesi puncak ajang pencarian bakat tersebut. “Sudah ada pelatih dari sana kok,” pungkasnya.

(Sumber: goal.com)

Tentang andrey's blog

tegas, sederhana, humoris, dan bijaksana...
Pos ini dipublikasikan di Seputar Sepakbola Nasional / Sepakbola Indonesia. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s